Nama : Lucia Francisca Susi Susanti
Nama Beken : Susi Susanti
Tempat / Tanggal Lahir : Tasikmalaya 11 Februari 1971
Tinggi : 161 Cm
Pegangan Raket : Tangan Kanan
Klub : PB Tunas dan PB Jaya Raya sejak Tahun 1985
Suami : Alan Budi Kusuma (Peraih Medali Emas Tunggal Putra 1992)
Anak : Lourencia Averina, Albertus Edward, Sebastianus Frederick
Pertandinga Yang Mengesankan dan Tidak Terlupakan
Saat ia berhasil menyumbangkan emas Olimpiade yang pertama bagi Indonesia di Barcelona (Olimpiade Barcelona 1992) bersama
Alan Budikusuma yang juga mendapatkan emas.
Pertandingan Yang Paling Mengesalkan
Saat ia kalah hanya satu poin dari Sarwendah (Kusumawardhani) di final Piala Dunia di Jakarta.
Masa
keemasannya yang berlangsung cukup panjang, berpuncak pada juara
tunggal putri bulutangkis Olimpiade Barcelona, Spanyol (1992). Dia
peraih emas pertama Indonesia di Olimpiade. Ketika itu Alan, pacarnya,
juga juara di tunggal putra sehingga media asing menjuluki mereka
sebagai "Pengantin Olimpiade". Predikat pengantin ini rupanya terus
melekat, terbukti saat mereka dipercaya menjadi pembawa obor Olimpiade
Athena 2004. Kita Semua Ingat Peristiwa Olimpiade 1992 Barcelona,
Salahsatu momen yang paling menggetarkan jiwa kita bangsa Indonesia.
Bulutangkis, adalah olahraga paling digemari di Indonesia, semua orang
memainkannya. Dan ini adalah final kejuaraan antar bangsa yang terbesar.
Disini Susi harus berhadapan dengan rival terkuatnya dari Korea, Bang
Soo-Hyun. Dari semua kejuaran dunia, ini akan menjadi yang paling
prestisius. Kedua pemain dan kedua bangsa, sama-sama memimpikan
kemenangan ini. Dan setelah berjuang secara dramatis, Susi-lah yang
akhirnya merebut medali tertinggi olahraga dunia itu bagi Indonesia.
Indonesia menang!
Benar-benar saat yang mengharukan, ketika Susi
Susanti akhirnya naik diatas panggung kehormatan Olimpiade itu, sang
Merah Putih dikerek ke atas dengan gagah, dan lagu kebangsaan kita
"Indonesia Raya" mulai diperdengarkan.Jiwa ke-Indonesiaan kita
tersentuh. Kita benar-benar bangga sebagai orang Indonesia. Saat itu
kita seperti diingatkan kembali, bahwa kita adalah bangsa para juara,
bangsa pemenang, bangsa yang besar.Dan itu menjadi sempurna karena Alan
Budikusuma juga mempersembahkan medali emas bulutangkis putera bagi
Indonesia. Lengkaplah kejayaan Indonesia.
Tidak hanya emas
Olimpiade, Susi Susanti juga nyaris mendominasi bulutangkis dunia dalam
jangka waktu yang cukup panjang. Menjuarai puluhan kejuaraan dunia,
termasuk All England, dan merebut Piala Uber sepanjang awal 1990-an.
Saat itu, Susi Susanti adalah yang terbesar. Gayanya sangat tenang.
Nyaris tanpa emosi, tapi serangan smash-nya cepat dan mematikan
seperti ular kobra, kelenturannya seperti batang bambu yang tidak
terpatahkan, penempatan bolanya sulit ditebak, dan keteguhannya sekokoh
benteng batu yang nyaris tidak tertembus. Smash, lob, rally, dropshot, netting
yang sangat tipis dan menegangkan, semuanya dilayani sampai lawannya
tidak berkutik. Bahkan dari sejak kelas 2 SMP, Susi Susanti sudah tahu
apa impiannya. Dan Susi yang masih sangat belia itu sudah berani
mengambil keputusan besar. Ini dunianya dan dia ingin jadi yang terbaik.
Dia pun masuk ke Pelatnas dan tinggal di asrama, memulai proses
pembentukannya yang spartan.
Cara Susi Berlatih
Sejak
remaja, Susi sudah berlatih di Pelatnas. Jam 7 pagi Susi dan
teman-temannya sudah bersiap-siap di lapangan. Latihan awal ini
berlangsung sampai jam 11 siang. Lalu dilanjutkan lagi dengan latihan
sore dari jam 3 sampai jam 7 malam. Ini dilakukan 6 hari dalam seminggu,
dari Senin sampai Sabtu kecuali Minggu.Makan harus yang bergizi tinggi,
tidak boleh sembarangan. Tidur harus diatur, tidak boleh terlalu malam.
Tidak ada asyik ngobrol dengan teman sampai larut, tidak ada nonton
tivi sampai ngantuk. Disiplin adalah kekuatan. Dispilin adalah
keunggulan. Disiplin, adalah kemenangan. Tidak ada waktu
sedikitpun untuk main-main kalau ingin jadi juara. Tapi demi impiannya,
apapun dilakukan dengan senang hati dan semangat tinggi, dan Susi tahu
dia bisa meraih impian besarnya itu. Sementara para remaja kecil lain
mungkin masih sibuk bermain-main, Susi kecil sudah berlatih secara
spartan.
Susi dikenal sebagai yang paling disiplin. Dia tidak
hanya ingin mendisiplinkan dirinya sendiri, tapi ia ingin menjadi contoh
bagi yang lainnya, contoh yang terbaik. Ia ingin mencontohkan disiplin
yang begitu hebatnya, sehingga yang lain akan bangkit semangatnya untuk
berdisiplin seperti dirinya. Dan yang lain pun mengikutinya. Sebuah
pemikiran yang besar, mulia, bijaksana dan benar-benar efektif. Sebuah
nilai kepemimpinan yang unggul.
Keajaiban di Sudirman Cup, 1989
Banyak
orang yang mungkin sulit percaya hal itu bisa terjadi. Dan mungkin ini
adalah salahsatu peristiwa paling menakjubkan sepanjang sejarah sport
dunia.Sudirman Cup adalah piala beregu seperti Thomas dan Uber Cup, tapi
campuran, laki-laki dan perempuan. Di final Indonesia berhadapan dengan
Korea, yang baru saja berhasil mempermalukan raksasa China. Stadion
Istora Senayan dipenuhi ribuan pendukung fanatik Indonesia yang
mengibarkan-ngibarkan bendera kecil Merah Putih.Awal yang kurang
beruntung bagi tim Indonesia. Malam itu, di dua partai pertama,
Indonesia langsung tertinggal 0-2. Pasangan Eddy Hartono / Gunawan dalam
pertempuran yang sengit dikalahkan ganda legendaris Korea, Park Joo
Bong / Kim Mon Soo 9-15 15-8 13-15. Verawaty Fajrin / Yanti Kusmiati
ditaklukan Hwang Hye Young / Chung Myung Hee dua set langsung, 12-15
6-15.
Satu partai lagi buat Korea, dan semuanya akan
berakhir. Para penonton Indonesia sudah hampir kehilangan harapan.Di
partai ketiga yang menentukan, turun bertanding pemain muda cemerlang,
Susi Susanti, umurnya baru 18 tahun. Dia akan melawan Lee Young Suk.
Masih begitu muda, tapi nasib Indonesia sudah ada di pundaknya.Sayang,
set pertama Susi dikalahkan dengan angka tipis 10-12. Dan di set kedua,
para pendukung Indonesia sudah putus harapan. Susi tertinggal jauh, dari
0-1, 0-5, 0-7, sampai akhirnya 2-10.Hanya tinggal 1 angka lagi. Semua
penonton sudah tertunduk lesu, kita sudah kalah. Beberapa penonton
terlihat sudah mulai meninggalkan tempat duduknya. Tapi sesuatu
terjadi.Susi tidak menyerah, dia tidak mengendurkan semangatnya
sedikitpun. Malah walaupun ini akan jadi satu angka yang terakhir,
justru dia akan bertempur habis-habisan. Pemain Korea itu tidak akan
menang dengan seenaknya. Walau hanya 1 angka, Susi akan menunjukkan pada
dunia bahwa dia tidak pernah menyerah begitu saja. Dan pelan-pelan,
angka Susi bertambah. Satu poin, demi satu poin. Penonton
terheran-heran, apa yang terjadi?Tapi angkanya terus saja bertambah, dan
penonton mulai bangkit lagi harapannya dan bertepuk tangan.
Perlahan-lahan muncul rasa bangga di hati mereka melihat perjuangan Susi
Susanti. Mereka tahu, bahwa walaupun kalah, Susi akan menjadi juara di
hati mereka, pahlawan mereka yang tidak pernah menyerah, demi InBerpacaran
Tapi
angka Susi Susanti terus bertambah, malah makin mendekati angka Lee
Young Suk. Pemain Korea itu mulai terlihat gugup, dan penonton Indonesia
makin terbakar semangatnya. Apakah mungkin kali ini Susi akan
menang?Dan akhirnya keajaiban pun terjadi! Susi memperkecil ketinggalan
angkanya sampai akhirnya dia menyamakan kedudukan, 10-10! Dari 2-10,
jadi 10-10! Benar-benar sebuah daya juang yang tiada bandingannya.
Sekarang sudah tidak ada lagi yang mampu menghentikannya. Lee sudah
jatuh mentalnya. Dia mungkin juga tidak habis pikir apa yang terjadi.
Dengan serang-serangan yang mematikan Susi akhirnya menyudahi
pertarungan dramatis itu, 12-10.Dan di set ketiga, daya juang Lee sudah
lenyap. Susi membantai Lee tanpa ampun 11-0, tanpa perlawanan. Ada
cerita mengatakan bahwa pimpinan pelatih Korea kalap dan frustasi sampai
dia kehilangan akal, menyumpah-nyumpahi Lee Young Suk bahkan memukulnya
di depan banyak orang. Setelah pertarungan ini, seluruh tim Korea
kolaps. Tim Indonesia sudah benar-benar diatas angin. Edy Kurniawan
menang telak dari Han Kok-Sung 15-4 dan 15-3. Ganda campuran Eddy
Hartono / Verawaty menghabisi Park Joo Bong / Chung Myung Hee 18-13 dan
15-3. Indonesia berjaya. Kita menang!Anda bayangkan Korea yang sekarang
negerinya sangat maju, bisa dihancurkan semangatnya oleh para pemain
bulutangkis Indonesia.
Cara Susi dan Alan Berpacaran
Mungkin
banyak orang tak mengira bahwa perjalanan cinta Alan-Susy yang berujung
pada pernikahan ini berjalan mulus sejak awal. Menurut Alan, mereka
banyak menemui kesulitan saat awal menjalin hubungan di pertengahan
tahun 1980-an. “Ketika itu kami baru masuk ke pelatnas. Kondisi pelatnas
tidak sebebas seperti sekarang. Pelatih sering kali mendoktrin kami
kalau pacaran akan membuat prestasi terhambat. Padahal kan tidak selalu
seperti itu. Tak cuma pelatih, orangtua kami pun akhirnya memiliki
pandangan serupa,” kata Alan.”Makanya sejak dulu kami tidak punya
tradisi merayakan hari Valentine secara khusus. Bagaimana mau merayakan?
Kehidupan di asrama tidak memungkinkan kami untuk melakukan hal itu.
Lagi pula, kebetulan kami sama-sama bukan orang yang romantis,” tambah
Susy.
Kisah cinta Alan-Susy dimulai ketika mereka masuk ke
pelatnas pada tahun 1985. Ketika itu, lantaran banyaknya hambatan,
mereka berpacaran secara diam-diam alias backstreet. ”Ketika itu, kalau
kami kalah, langsung ada anggapan kami kalah karena kebanyakan pacaran.
Padahal hal itu kan tidak sesuai konteks. Kami kalah karena misalnya
kurang persiapan,” tutur Alan.Meski pada saat awal pacaran mereka
berjalan secara backstreet, Alan dan Susy tetap bisa menunjukkan bentuk
perhatian dan kasih sayang. ”Kami selalu saling support satu sama lain.
Contoh kecilnya, kalau Alan mendapat giliran latihan malam, saya
menyiapkan air panas untuk dia mandi,” kenang Susy.Ketika itu, para
atlet pelatnas masih berlatih di kawasan Senayan. Jumlah lapangan yang
belum banyak membuat mereka harus berlatih secara bergiliran. Tak heran
jika selalu ada yang mendapat giliran berlatih hingga malam hari.
Perhatian yang lebih kurang mirip juga dilakukan Alan terhadap Susy.
”Kalau giliran Susy yang latihan malam, saat pulang biasanya saya
jemput,” kata Alan.
Untuk membuktikan bahwa hubungan yang mereka
jalin tidak menimbulkan efek negatif, Alan dan Susy bertekad untuk
memberi bukti berupa prestasi. ”Ya harus dengan prestasi. Tanpa
menunjukkan prestasi, tentu sulit bagi kami untuk mendapatkan restu,
baik dari pelatih maupun dari orangtua masing-masing,” urai
Alan.Prestasi puncak Alan dan Susy adalah ketika mereka menyabet medali
emas nomor tunggal putra dan putri Olimpiade Barcelona 1992. Prestasi
itu begitu fenomenal dan tak akan terlupakan karena medali tersebut
adalah emas pertama yang diraih Indonesia di kancah olimpiade. Hingga
saat ini, belum pernah ada yang menyamai prestasi mereka sebagai
pasangan yang merebut medali emas dan dijuluki pasangan emas olimpiade. Beberapa Pengalaman Susi Yang Berpacaran
ari pengalaman hidupnya, ia mengakui jujur bahwa Tuhan selalu menyertainya. Kesan itu paling kuat ketika ia bersikeras ke Lourdes, saat mengikuti pertandingan di Perancis. Coba bayangkan, ia tak peduli mempersiapkan diri untuk menang dalam pertandingan, hanya karena ingin ke Lourdes. Meninggalkan latihan bukan hal mudah baginya. Tapi itu yang dibuat oleh Susy. "Saat itu saya lebih memilih kalah daripada tidak berziarah ke Lourdes. Tapi terbukti saya menang seusai kembali dari Lourdes," tutur Manager Tim Uber Puteri Indonesia ini.Pengalaman lain lagi. Saat Komuni, ia menerima 2 hosti. Anehnya, sejak saat itu prestasinya bertanding naik. Menurut papinya, ia diberi berkat lebih. "Sejak tahun 1988 selalu kalah. Setelah itu, juara terus," tuturnya.
Berkat
yang lain ia terima saat bertanding di Inggris tahun 1991 ketika ikut
kejuaraan All England. Saat itu, ia bersama Alan dan pelatih berada di
sebuah hotel. Di depan pintu hotel, kira-kira 20 meter, ada seorang
nenek tua. Dalam waktu setengah jam, nenek ini hanya berjalan 10 meter
dari tempatnya semula. Sang pelatih mengajak agar menyumbang 1
poundsterling untuk sang nenek. Saat itu yang lain sudah memberikan
sumbangan kepada si nenek, sementara ia belum. Susy lantas memberikan 5
poundsterling langsung kepada sang nenek, karena di kantongnya tidak aa
1 poundsterling. Saat itu ia merasa kehangatan dan kehalusan tangan
sang nenek. Ia, tak tahu kenapa, langsung menangis sesungukan. Ia
begitu iba dan terharu terhadap nenek itu. Rasanya ada keteduhan dan
kedamaian dari wajah nenek itu ketika memandangnya. Tak tahan dengan
tatapan sang nenek, tak berapa lama ia memutuskan kembali ke hotel.
Anehnya, sang nenek pergi begitu cepat saat dirinya dicari dalam waktu
yang singkat. Herannya, tak seorang pun di seputar hotel itu yang
melihat kehadirannya. Selepas pengalaman itu, Susy berhasil dalam final
pertandingan. "Kata papi, Tuhan mungkin ingin memberi perlindungan
untuk saya," kenangnya penuh haru.
Hal lain lagi
ia alami saat berada di Malaysia dalam pertandingan Uber Cup tahun
1988. Sebuah pengalaman yang mendebarkan ia alami. Lift yang
ditumpanginya bersama 12 orang rekan dari Indonesia tiba-tiba mati.
Mereka sempat bertahan beberapa saat di dalam lift, hingga terasa
oksigen dalam lift habis. Ia dan rekannya berhasil menyelamatkan diri
dengan pertolongan seorang wartawan Indonesia yang saat itu bertugas dan
terjebak dalam lift yang sama. Tubuh wartawan itu dinaiki sebagai
bantalan keluar dari lift. Mereka pun selamat. Esoknya, Susy dan
rekannya, Elizabeth Latif, selamat dari pecahan kaca di kolam renang.
Herannya, mereka yang berada di kolam renang itu menjadi korban, kecuali
Susy dan Elizabeth Latif. Para korban akhirnya ditangani dengan
bantuan tim dokter dari Cina, karena tim dokter dari Indonesia
kewalahan. Susy pun ikut membantu. "Darah berceceran. Handuk besar
sampai penuh darah. Ini sabotase atau apa, saya tidak tahu," tutur ibu
yang hingga kini tetap menjaga staminanya dengan olah rag bulutangkis.
Prestasi Susi Susanti
Multievent dan Beregu
Medali Emas Olimpiade Barcelono 1992
Medali Perunggu Olimpiade Atlanta 1996
Medali Perunggu Asian Games 1990
Medali Perunggu Asian Games 1994
Medali Emas Sea Games 1989
Medali Emas Sea Games 1991
Medali Emas Sea Games 1995
Juara Piala Sudirman Tahun 1989
Juara Piala Uber Tahun 1994 dan 1996
Prestasi Di Kejuaran Internasional
Juara World Championship 1993, semifinalis World Championship 1991, 1995
Juara All England 1990, 1991, 1993, dan 1994
Juuara World Cup 1989, 1993, 1994, 1996, 1997
Juara World Badminton Grand Prix 1990, 1991, 1992, 1993, 1994 dan 1996
Juara Indonesia Open 1989, 1991, 1994, 1995, 1996, dan 1997
Juara Malaysia Open 1993, 1994, 1995, dan 1997
Juara Japan Open 1992, 1994, dan 1995
Juara Korea Open 1995
Juara Dutch Open 1993
Juara Denmark Open 1991 dan 1992
Juara Thailand Open 1991, 1992, 1993, dan 1994
Juara Swedish Open 1991
Juara Vietnam Open 1997
Juara China Taipei Open 1991, 1994 dan 1996
Penghargaan Lainnya
Tanda Kehormatan Republik Indonesia Bintang Jasa Utama
Penghargaan Ratu Sirikit Thailand Tahun 1992
Guiness Book of Record aias daftar rekor dunia
Herbert Scheele Trophy pada tahun 2002 dari BWF
Dinobatkan Oleh BWF Hall of Fame pada Mei 2004




1 Comment for "Sang Peraih Medali Emas Pertama Indonesia di olimpiade " Susi Susanti ""
Hebat
Jadi panutan sekaligus motifasi pebulu tangkis NKRI.